Dia seorang sahabatku yang gemar sekali bersepeda suatu hari dia berkeinginan untuk menaklukan sebuah gunung dengan sepedanya. Dia sangat bersemangat dan antusias.
Hingga hari yang di nanti itu pun tiba, track yang akan dilalui ternyata hampir sepanjang 150km. Putus asakah dia mendengar jauhnya jalan yang akan ditempuh? tentu tidak, seorang yang bermental juara mau disiksa seperti apapun tetaplah berusaha untuk terus maju sampai akhir, ihklas diawal ujian disinilah kuncinya.
Diawal awal perjalananpun jalur yang dilaluinya berliku dan selalu menanjak. Sempat merasa putus asa karena selalu membayangkan kapankah tanjakan ini berakhir bagaimana jika jalurnya selalu menanjak apakah aku kuat melaluinya atau haruskah aku menyerah karena sangat melelahkan sekali? Ketika pikiran itu muncul seketika pula dia berusaha untuk menepisnya, dia tak lagi melihat jalan yang jauh didepan dia hanya melihat serta menikmati jalan disekitarnya, pemandangan indah disekitarnya.
Di sinilah kita belajar untuk tidak perlu khawatir dengan masa depan sehingga melupakan hal-hal penting yang ada pada saat ini. Kebanyakan orang selalu mengkhawatirkan masa depannya seolah-olah mereka hidup untuk selamanya. Apa yang sudah pasti dikhawatirkannya (rezeki, jodoh dll) sedangkan apa yang belum pasti dihiraukannya (keaadan kita setelah mati, kondisi kita pada kehidupan setelah mati).
Tak lama kemudian jalan yang selalu menanjakpun berubah menjadi turunan, betapa bahagianya dia sepedanya pun melaju dengan kencangnya.
Betapapun sulitnya masalah yang kita lalui tetap yakin dan percaya di balik kesulitan selalu ada kemudahan
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Menjelang garis finish dia sudah merasa tak sanggup lagi, dia merasakan sudah dalam batas limitnya namun tetap dipaksakan olehnya sehingga tiba-tiba kakinya pun menjadi keram.
Maka sebaiknya jangalah kita melampaui batas. Seperti, jika kita berusaha terus menerus untuk mencari rezeki dan kita pun menjadi kaya raya, hendaklah kita tidak terlalu berlebihan dalam mencarinya dan jangan pula melampaui batas karena rezeki atau uang yang kita cari tidak akan pernah ada habisnya, sehingga engkaupun tidak sempat untuk menikmatinya, nikmatilah rezeki yang telah engkau peroleh.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. AL-Maidah:87)


up
BalasHapus